Pembahasan Hasil Penelitian
Berdasarkan perolehan data empirik dan hasil pengujian hipotesis secara statistik menunjukkan bahwa secara umum terdapat pengaruh yang positif antara iklim sekolah, kecerdasan sosial, dan kemandirian belajar dan berimplikasi positif terhadap hasil belajar ekonomi siswa kelas XII pada jurusan IPS SMA di wilayah selatan kabupaten Kuningan.
Setelah dilakukan pengujian hipotesis penelitian, selanjutnya diuraikan pembahasan hasil penelitian yang penjelasannya dilakukan berdasarkan pada variabel penelitian dan rumusan masalah. Hasil penelitian ini yang pada dasarnya merupakan usaha untuk mengungkapkan secara empirik tentang pengaruh iklim sekolah, kecerdasan sosial, dan kemandirian belajar terhadap hasil belajar siswa
Secara teoritis diakui bahwa semua variabel independen yaitu iklim sekolah, kecerdasan sosial, dan kemandirian belajar memegang peranan cukup penting dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa.
Hasil Belajar siswa
Dengan menggunakan SPSS versi 16.0 for windows, data nilai ulangan harian mata pelajaran ekonomi SMA pada 3 SMA di Kabupaten Kuningan diolah dan hasilnya menunjukkan bahwa nilai ulangan harian berada dalam rentang 45 sampai dengan 88. Dalam rentang tersebut diperoleh harga rata-rata skor (mean) sebesar 71,26 dengan nilai tengah (median) sebesar 72, rentang (range) skor adalah 43, varians sample sebesar 102,929 standar deviasi 10,145, dan jumlah kumulatif sebesar 5131. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa SMA dalam ulangan formatif mata pelajaran ekonomi pada jurusan IPS SMA di kabupaten Kuningan cukup baik.
Belajar merupakan suatu proses usaha sadar yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai umpan balik dari proses pembelajaran. Perubahan perilaku tersebut bukan terjadi hanya pada satu aspek saja, tetapi terjadi secara menyeluruh yang meliputi aspek kognitif, afektif, konatif dan motorik (Moh. Surya, 2004:16-17). Kemudian Nana Sudjana (1999:3) mengemukakan bahwa “Hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang mencakup bidang kognitif, afektif dan psikomotor”. Pada dasarnya kemampuan kognitif merupakan hasil belajar, sebagaimana diketahui bahwa hasil belajar merupakan perpaduan antara faktor pembawaan dan pengaruh lingkungan (Sunarto, 1999:11).
Hasil belajar dari setiap siswa selalu berbeda dengan lainnya, hal ini karena faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar tidak pernah sama. Hasil belajar tergantung pada apa yang dipelajari, bagaimana bahan pelajaran itu dipelajari, dan faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar (termasuk kemampuan intelegensi dan bakat). Menurut pandangan ahli jiwa Gestalt (dalam Nana Sujana, 1992:41) bahwa perubahan sebagai hasil belajar bersifat menyeluruh pada perilaku maupun kepribadian secara keseluruhan. Belajar bukan semata-mata kegiatan mekanis stimulus respon, tetapi melibatkan seluruh fungsi organisma yang mempunyai tujuan-tujuan tertentu.
Berbagai teori tersebut diatas memperkuat terhadap hasil analisis data bahwa terdapat pengaruh antara iklim sekolah, kecerdasan sosial, dan kemandirian belajar siswa terhadap hasil belajar. Hasil belajar yang dicapai siswa tidak hanya berupa nilai-nilai yang tertera dalam bentuk laporan yang diterima peserta didik setelah melewati fase-fase pendidikan, melainkan ada bagian lain dari hasil belajar yang tidak terwujud dalam bentuk angka, yaitu sikap, perilaku, dan kemampuan psikomotorik yang sangat berguna untuk perkembangan dan kemajuan siswa dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Temuan penelitian menunjukan bahwa iklim sekolah, kecerdasan sosial, dan kemandirian belajar ternyata berkonstribusi terhadap hasil belajar baik secara langsung maupun tidak langsung. Artinya tinggi rendahnya hasil belajar diantaranya dipengaruhi oleh tingkat kondusifnya iklim sekolah, tinggi rendahnya kecerdasan sosial, dan tinggi rendahnya kemandirian belajar siswa. Dengan demikian temuan penelitian ini juga menunjukan bahwa perubahan pada diri siswa sebagai hasil belajar ini meliputi aspek kognitif, afektif juga psikomotor.
Pengaruh Iklim Sekolah Terhadap Kemandirian Belajar Siswa
Berdasarkan hasil analisis deskriptif pengaruh iklim sekolah dapat dikemukakan, sebagai berikut : Deskripsi iklim sekolah menunjukkan bahwa pengaruh iklim sekolah berada dalam rentang 43 sampai dengan 85 Dalam rentang tersebut diperoleh harga rata-rata skor (mean) sebesar 66,17 dengan nilai tengah (median) sebesar 67,00, rentang (range) skor adalah 36, varians sample sebesar 81,944, standar deviasi 9,052, dan jumlah kumulatif sebesar 4764. Sementara hasil deskripsi kemandirian belajar siswa adalah sebagai berikut: peran kemandirian belajar berada dalam rentang 47 sampai dengan 87. Dalam rentang tersebut diperoleh harga rata-rata skor (mean) sebesar 67,93 dengan nilai tengah (median) sebesar 68,50, rentang (range) skor adalah 40, varians sample sebesar 143,474, standar deviasi 11,978, dan jumlah kumulatif sebesar 4891.
Hasil deskripsi data diatas menunjukan bahwa nilai rata-rata, median, maupun jumlah kumulatif antara kedua variabel yang diperoleh memiliki perbedaan yang cenderung menunjukan peningkatan. Adanya kecenderungan peningkatan dalam setiap skor tersebut disimpulkan mampu mendukung timbulnya pengaruh iklim sekolah terhadap kemandirian belajar pada siswa.
Berdasarkan hasil perhitungan data Pengaruh Iklim Sekolah Terhadap kemandirian belajar siswa, dengan menggunakan perhitungan pengolahan SPSS 16.0 diperoleh nilai koefisien regresi sebesar 0,545 dapat diartikan bahwa setiap peningkatan satu satuan iklim sekolah akan meningkatkan kemandirian belajar sebesar 0,545.
Kontribusi iklim sekolah terhadap kemandirian belajar siswa sebesar 29,70 % menunjukan bahwa iklim sekolah peranannya rendah dalam membentuk kemandirian belajar siswa. Namun walaupun hasil penelitian ini menunjukan tingkat konstribusi yang rendah namun masih relevan dengan hasil-hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan hubungan antara iklim lingkungan sekolah dengan kemandirian belajar.(A. Fatah Munzali dalam Blogbustamamismail, 2010). Adanya konstribusi iklim sekolah terhadap kemandirian juga sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Brookover (1979), McDill & Rigsby (1973), Mitchell (1968) Anderson (1982) yang menyatakan bahwa selain berdampak positif pada pencapaian hasil akademik siswa, iklim sekolah pun memiliki kontribusi positif terhadap pencapaian hasil non akademik, seperti pembentukan konsep diri, keyakinan diri, dan aspirasi. Hasil pencapaian non akademik tersebut berperan dalam pembentukan kemandirian belajar siswa, diantaranya menyangkut tingkat inisiatif yang dimiliki siswa, rasa tanggung jawab, tidak bergantung pada orang lain (mandiri), dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi.
Pengaruh kecerdasan sosial Terhadap Kemandirian Belajar Siswa
Deskripsi kecerdasan sosial menunjukan bahwa kecerdasan sosial berada dalam rentang 40 sampai dengan 72. Dalam rentang tersebut diperoleh harga rata-rata skor (mean) sebesar 58,431 dengan nilai tengah (median) sebesar 59,00, rentang (range) skor adalah 32, varians sample sebesar 42,192, standar deviasi 6,496, dan jumlah kumulatif sebesar 4207. Sementara jika kita bandingkan dengan deskripsi data kemandirian belajar siswa dengan rincian: rentang 47 sampai dengan 87. Dalam rentang tersebut diperoleh harga rata-rata skor (mean) sebesar 67,93 dengan nilai tengah (median) sebesar 68,50, rentang (range) skor adalah 40, varians sample sebesar 143,474, standar deviasi 11,978, dan jumlah kumulatif sebesar 4891, membuktikan bahwa terdapat kenaikan dalam setiap bagiannya. Hal ini menunjukan adanya kenaikan skor yang mampu mendukung timbulnya pengaruh tingkat kecerdasan sosial terhadap kemandirian belajar siswa
Berdasarkan hasil perhitungan data pengaruh kecerdasan sosial Terhadap kemandirian Belajar Ekonomi Siswa pada jurusan IPS SMA Negeri di wilayah selatan kabupaten Kuningan, dengan menggunakan perhitungan pengolahan SPSS 16.0 diperoleh nilai koefisien regresi sebesar 0,237 dapat diartikan bahwa setiap peningkatan satu satuan kecerdasan sosial akan meningkatkan satu satuan kemandirian belajar sebesar 0,237.
Besarnya kontribusi dari kecerdasan sosial Terhadap kemandirian belajar sebesar 5,62 %. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat pengaruh antara kecerdasan sosial terhadap kemandirian belajar sebesar 5,62 %. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa iklim sekolah berperan rendah dalam membentuk kemandirian belajar siswa. Meskipun demikian tetapi masih tetap memiliki pengaruh. Hal ini sesuai dengan pendapat Stephen Jay Could, On Intelligence, Monash University (1994), yang menjelaskan bahwa kecerdasan sosial merupakan suatu kemampuan untuk memahami dan mengelola hubungan manusia. Kecerdasan ini adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik kenyataan apa adanya ini. Kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri seperti tersebut diatas akan mengasah kecerdasan emosi. Kecerdasan emosi ini adalah salah satu bagian dari kecerdasan sosial, kemandirian adalah salah satu bentuk kualitas emosional. (Peter Salovey dan John Meyer seperti yang dikutif oleh Aunurrahman).
Melalui kecerdasan sosial yang dimiliki yaitu menyangkut kesadaran situasional (situational awareness), kemampuan membawa diri (presense), autensitas (authenticity), kejelasan (clarity), dan empati (Empathy) ternyata mampu mempengaruhi tingkat kemandirian siswa. Kemandirian ini diantaranya dapat dilihat dengan adanya perubahan pada tingkat kepercayaan diri, rasa tanggung jawab, kemampuan berinisiatif dan ketidakbergantungan pada orang lain. Tingkat kemandirian yang dimiliki cenderung mengalami perubahan yang positif ketika tingkat kecerdasan sosialnya meningkat.
Pengaruh Iklim Sekolah Terhadap Hasil Belajar Siswa
Deskripsi iklim sekolah menunjukkan bahwa pengaruh iklim sekolah berada dalam rentang 43 sampai dengan 85 Dalam rentang tersebut diperoleh harga rata-rata skor (mean) sebesar 66,17 dengan nilai tengah (median) sebesar 67,00, rentang (range) skor adalah 36, varians sample sebesar 81,944, standar deviasi 9,052, dan jumlah kumulatif sebesar 4764. Sementara itu untuk deskripsi hasil belajar menunjukkan bahwa nilai tes formatif dari 72 sampel penelitian yang digunakan memiliki rentang nilai 45 sampai dengan 88. Dalam rentang tersebut diperoleh harga rata-rata skor (mean) sebesar 71,26 dengan nilai tengah (median) sebesar 72, rentang (range) skor adalah 43, varians sample sebesar 102,929 standar deviasi 10,145, dan jumlah kumulatif sebesar 5131. Perbandingan antara kedua rentang pada variabel iklim sekolah dan hasil belajar menunjukan adanya kenaikan skor yang mendukung terhadap munculnya pengaruh iklim sekolah terhadap hasil belajar.
Berdasarkan hasil perhitungan data Pengaruh Iklim Sekolah Terhadap Hasil Belajar Ekonomi Siswa kelas XII pada jurusan IPS SMA Negeri di wilayah selatan kabupaten Kuningan, dengan menggunakan perhitungan pengolahan SPSS 16.0 diperoleh nilai koefisien regresi sebesar 0,471 dapat diartikan bahwa setiap peningkatan satu satuan iklim sekolah akan meningkatkan hasil belajar sebesar 0,471
Besarnya konstibusi Iklim sekolah secara langsung terhadap hasil belajar adalah sebesar 22,22%, oleh karena itu untuk mengoptimalkan hasil belajar harus diupayakan dengan mewujudkan iklim sekolah yang kondusif. Dengan cara ini diharapkan dapat mendorong siswa dalam meningkatkan hasil belajarnya. Sementara pengaruh tidak langsung iklim sekolah terhadap hasil belajar melalui kemandirian belajar adalah sebesar 0,253. Hal ini sesuai dengan pendapat Moos dan Arter (1979) dan Anderson (1982) yang menyatakan bahwa berdasarkan berbagai studi yang dilakukan, iklim sekolah telah terbukti memberikan pengaruh yang kuat terhadap pencapaian hasil-hasil akademik siswa. Hasil tinjauan ulang yang dilakukan terhadap 40 studi tentang iklim sekolah sepanjang tahun 1964 sampai dengan 1980, hampir lebih dari setengahnya menunjukkan bahwa berbagai dimensi pada iklim sekolah telah memberikan sumbangan yang berharga terhadap pencapaian hasil akademik siswa. Dimensi dimensi tersebut adalah meliputi dimensi hubungan, dimensi pertumbuhan atau perkembangan pribadi, dimensi perubahan dan perbaikan sistem, dan dimensi lingkungan fisik. Dengan demikian berdasarkan analisis data yang diperoleh hipotesis Ha untuk pengaruh iklim sekolah terhadap hasil belajar terbukti dapat diterima, dan H0 ditolak.
Pengaruh Kecerdasan Sosial terhadap hasil Belajar
Deskripsi kecerdasan sosial berada dalam rentang 40 sampai dengan 72. Dalam rentang tersebut diperoleh harga rata-rata skor (mean) sebesar 58,431 dengan nilai tengah (median) sebesar 59,00, rentang (range) skor adalah 32, varians sample sebesar 42,192, standar deviasi 6,496, dan jumlah kumulatif sebesar 4207. Sedangkan deskripsi hasil belajar menunjukkan bahwa nilai tes formatif dari 72 sampel penelitian yang digunakan memiliki rentang nilai 45 sampai dengan 88. Dalam rentang tersebut diperoleh harga rata-rata skor (mean) sebesar 71,26 dengan nilai tengah (median) sebesar 72, rentang (range) skor adalah 43, varians sample sebesar 102,929 standar deviasi 10,145, dan jumlah kumulatif sebesar 5131. Perbandingan antara kedua rentang pada variabel kecerdasan sosial dan hasil belajar menunjukan adanya kenaikan skor yang mendukung terhadap munculnya pengaruh kecerdasan sosial terhadap hasil belajar.
Berdasarkan hasil perhitungan data pengaruh kecerdasan sosial Terhadap Hasil Belajar Ekonomi Siswa kelas XII pada jurusan IPS SMA Negeri di wilayah selatan kabupaten Kuningan, dengan menggunakan perhitungan pengolahan SPSS 16.0 diperoleh nilai koefisien regresi sebesar 0,183 dapat diartikan bahwa setiap peningkatan satu satuan kecerdasan sosial akan meningkatkan satu satuan hasil belajar sebesar 0,183
Besarnya konstibusi kecerdasan sosial secara langsung terhadap hasil belajar adalah sebesar 3,35%, ini berarti peningkatan hasil belajar secara langsung dipengaruhi oleh tingkat kecerdasan sosial. Tingkat keberhasilan belajar juga secara tidak langsung dipengaruhi oleh tingkat kecerdasan sosial yaitu sebesar 0,253. Keberpengaruhan ini didukung oleh teori belajar kognitif menurut Wallace, Engel, dan Mooney, yaitu; belajar merupakan suatu proses terpadu yang berlangsung di dalam diri seseorang dalam upaya memperoleh pemahaman dan struktur kognitif baru, atau untuk mengubah pemahaman dan struktur kognitif lama. Struktur kognitif adalah persepsi atau tangggapan seseorang tentang keadaan dalam lingkungan sekitarnya yang mempengaruhi ide-ide, perasaan, tindakan, dan hubungan sosial orang yang bersangkutan. Jadi kecerdasan sosial sangat dibutuhkan dalam pengembangan keberhasilan dalam belajar.
Menurut pendapat Amstrong (1994) bahwa kecerdasan sosial ini bersifat sangat unik karena dapat bekerja secara padu dan simultan ketika seseorang sedang berpikir, sehingga akan mempengaruhi hasil dari kegiatan yang dilakukan. Hal ini setara dengan kecerdasan interpersonal, salah satu jenis kecerdasan yang diidentifikasi dalam Howard Gardner‘s teori kecerdasan ganda dan erat terkait dengan teori pikiran. Keterpaduan cara kerja kecerdasan sosial dalam menentukan hasil belajar seperti yang diungkapkan Amstrong diatas pada hasil penelitian kali ini memiliki nilai yang rendah. Hal ini mungkin lebih disebabkan karena factor lain yang tidak diteliti. Namun meskipun demikian tingkat keberpengaruhan ini mampu membuktikan adanya perubahan hasil belajar dengan adanya peningkatan dalam hal kesadaran situasional (situational awareness), kemampuan membawa diri (presense), autensitas (authenticity), kejelasan (clarity), dan empati (Empathy).
Pengaruh kemandirian belajar terhadap hasil Belajar
Sementara hasil deskripsi kemandirian belajar siswa adalah sebagai berikut: peran kemandirian belajar berada dalam rentang 47 sampai dengan 87. Dalam rentang tersebut diperoleh harga rata-rata skor (mean) sebesar 67,93 dengan nilai tengah (median) sebesar 68,50, rentang (range) skor adalah 40, varians sample sebesar 143,474, standar deviasi 11,978, dan jumlah kumulatif sebesar 4891. Deskripsi hasil belajar menunjukkan bahwa nilai tes formatif dari 72 sampel penelitian yang digunakan memiliki rentang nilai 45 sampai dengan 88. Dalam rentang tersebut diperoleh harga rata-rata skor (mean) sebesar 71,26 dengan nilai tengah (median) sebesar 72, rentang (range) skor adalah 43, varians sample sebesar 102,929 standar deviasi 10,145, dan jumlah kumulatif sebesar 5131. Perbandingan antara kedua rentang pada variabel kemandirian belajar siswa dan hasil belajar menunjukan adanya kenaikan skor yang mendukung terhadap munculnya pengaruh kemandirian belajar terhadap hasil belajar.
Berdasarkan hasil perhitungan data pengaruh kecerdasan sosial Terhadap Hasil Belajar Ekonomi Siswa pada jurusan IPS SMA Negeri di wilayah selatan kabupaten Kuningan, dengan menggunakan perhitungan pengolahan SPSS 16.0 diperoleh nilai koefisien regresi sebesar 0,253dapat diartikan bahwa setiap peningkatan satu satuan kemandirian belajar akan meningkatkan satu satuan hasil belajar sebesar 0,253
Besarnya konstibusi kemandirian belajar secara langsung terhadap hasil belajar adalah sebesar 6,64%, Namun meskipun konstribusinya rendah bukan berarti dapat diabaikan. Rendahnya pengaruh dapat disebabkan oleh perbedaan tingkat kemandirian belajar yang dimiliki siswa seperti yang dikemukakan oleh Charlesh Schaeffer seperti yang dikutif oleh Medinnus dan Jonson yang mengatakan bahwa tingkat kemandirian yang ada pada setiap orang berbeda – beda, ada yang tinggi dan ada yang rendah. Meskipun tidak menunjukan pengaruh yang tinggi namun hal ini masih sesuai dengan pendapat Psikolog Peter Salovey dan John Meyer seperti yang dikutif oleh Aunurrahman mengemukakan bahwa kemandirian adalah salah satu bentuk kualitas emosional yang dinilai penting bagi keberhasilan dalam belajar. Diantaranya menyangkut kemampuan berinisiatif, rasa percaya diri, tanggung jawab dan ketidakbergantungan pada orang lain. Faktor yang mempengaruhi rendahnya besaran pengaruh yang diperoleh diprediksi akibat faktor-faktor yang tidak diteliti.
AAM AMALIYANTI. Pengaruh Iklim Sekolah, Kecerdasan Sosial, dan Kemandirian Siswa dalam Proses Pembelajaran Terhadap Hasil Belajar Ekonomi. (Survey terhadap siswa kelas XII pada Jurusan IPS SMA Negeri Di Wilayah Selatan Kabupaten Kuningan). Tesis. Sekolah Pascasarjana Universitas Kuningan. 2011