EPISTEMOLOGI ISLAM DAN SISTEM EKONOMI ISLAM

EPISTEMOLOGI ISLAM DAN SISTEM  EKONOMI ISLAM Epistemologi Islam

Kebudayaan Islam pada intinya adalah refleksi spirit yang terpancar  dari pandangan Islam terhadap alam semesta, yaitu manusia dan kehidupan. Dapat dipahami bagaimana orang Islam memandang kehidupan, di mana cara pandang yang komprehensif terhadap kehidupan tidak akan membuatnya terjebak dalam satu sisi kehidupan. Hal ini akan mempengaruhi bagaimana Islam memandang masalah ekonomi, politik, sosial dan kebudayaan secara umum. Pandangan yang komprehensif ini akan menghindari kesempitan pola pikir dan wacana yang akhir-akhir ini sering dialami masyarakat sebagai pengaruh globalisasi dan adanya konsep spesialisasi.

Continue reading

Posted in Media Cirukem | Tagged | Comments Off

Tesis Pascasarjana UNIKU-Pembahasan

Pembahasan Hasil Penelitian

Berdasarkan perolehan data empirik dan hasil pengujian hipotesis secara statistik menunjukkan bahwa secara umum terdapat pengaruh yang positif antara iklim sekolah, kecerdasan sosial, dan kemandirian belajar dan berimplikasi positif terhadap hasil belajar ekonomi siswa kelas XII pada jurusan IPS SMA di wilayah selatan kabupaten Kuningan.

Setelah dilakukan pengujian hipotesis penelitian, selanjutnya diuraikan pembahasan hasil penelitian yang penjelasannya dilakukan berdasarkan pada variabel penelitian dan rumusan masalah.  Hasil penelitian ini yang pada dasarnya merupakan usaha untuk mengungkapkan secara empirik tentang pengaruh iklim sekolah, kecerdasan sosial, dan kemandirian belajar terhadap hasil belajar siswa

Secara teoritis diakui bahwa semua variabel independen yaitu iklim sekolah, kecerdasan sosial, dan kemandirian belajar memegang peranan cukup penting dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa.

Hasil Belajar siswa

Dengan menggunakan SPSS versi 16.0 for windows, data  nilai ulangan harian mata pelajaran ekonomi SMA pada 3 SMA di Kabupaten Kuningan diolah dan  hasilnya menunjukkan bahwa  nilai ulangan harian berada dalam rentang 45 sampai dengan 88. Dalam rentang tersebut diperoleh harga rata-rata skor (mean) sebesar 71,26 dengan nilai tengah (median) sebesar 72, rentang (range) skor adalah 43, varians sample sebesar 102,929 standar deviasi 10,145, dan jumlah kumulatif sebesar 5131. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa SMA dalam ulangan formatif mata pelajaran ekonomi pada jurusan IPS SMA di kabupaten Kuningan cukup baik.

Belajar merupakan suatu proses usaha sadar yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai umpan balik dari proses pembelajaran. Perubahan perilaku tersebut bukan terjadi hanya pada satu aspek saja, tetapi terjadi secara menyeluruh yang meliputi aspek kognitif, afektif, konatif dan motorik (Moh. Surya, 2004:16-17). Kemudian Nana Sudjana (1999:3) mengemukakan bahwa “Hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang mencakup bidang kognitif, afektif dan psikomotor”. Pada dasarnya kemampuan kognitif merupakan hasil belajar, sebagaimana diketahui bahwa hasil belajar merupakan perpaduan antara faktor pembawaan dan pengaruh lingkungan (Sunarto, 1999:11).

Hasil belajar dari setiap siswa selalu berbeda dengan lainnya, hal ini karena faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar tidak pernah sama. Hasil belajar tergantung pada apa yang dipelajari, bagaimana bahan pelajaran itu dipelajari, dan faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar (termasuk kemampuan intelegensi dan bakat). Menurut pandangan ahli jiwa Gestalt (dalam Nana Sujana, 1992:41) bahwa perubahan sebagai hasil belajar bersifat menyeluruh pada perilaku maupun kepribadian secara keseluruhan. Belajar bukan semata-mata kegiatan mekanis stimulus respon, tetapi melibatkan seluruh fungsi organisma yang mempunyai tujuan-tujuan tertentu.

Berbagai teori tersebut diatas memperkuat terhadap hasil analisis data bahwa terdapat pengaruh antara iklim sekolah, kecerdasan sosial, dan kemandirian belajar siswa terhadap hasil belajar.  Hasil belajar yang dicapai siswa tidak hanya berupa nilai-nilai yang tertera dalam bentuk laporan yang diterima peserta didik setelah melewati fase-fase pendidikan, melainkan ada bagian lain dari hasil belajar yang tidak terwujud dalam bentuk angka, yaitu sikap, perilaku, dan kemampuan psikomotorik yang sangat berguna untuk perkembangan dan kemajuan siswa dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Temuan penelitian menunjukan bahwa iklim sekolah, kecerdasan sosial, dan kemandirian belajar ternyata berkonstribusi terhadap hasil belajar baik secara langsung maupun tidak langsung.  Artinya tinggi rendahnya hasil belajar diantaranya dipengaruhi oleh  tingkat kondusifnya iklim sekolah, tinggi rendahnya kecerdasan sosial, dan tinggi rendahnya kemandirian belajar siswa. Dengan demikian temuan penelitian ini juga menunjukan bahwa perubahan pada diri siswa sebagai hasil belajar ini meliputi aspek kognitif, afektif juga psikomotor.

Pengaruh Iklim Sekolah Terhadap Kemandirian Belajar Siswa

Berdasarkan hasil analisis deskriptif pengaruh iklim sekolah dapat dikemukakan, sebagai berikut : Deskripsi iklim sekolah menunjukkan bahwa pengaruh iklim sekolah berada dalam rentang 43 sampai dengan 85 Dalam rentang tersebut diperoleh harga rata-rata skor (mean) sebesar 66,17 dengan nilai tengah (median) sebesar 67,00, rentang (range) skor adalah 36, varians sample sebesar 81,944, standar deviasi 9,052, dan jumlah kumulatif sebesar 4764.  Sementara hasil deskripsi kemandirian belajar siswa adalah sebagai berikut: peran kemandirian belajar berada dalam rentang 47 sampai dengan 87. Dalam rentang tersebut diperoleh harga rata-rata skor (mean) sebesar 67,93 dengan nilai tengah (median) sebesar 68,50, rentang (range) skor adalah 40, varians sample sebesar 143,474, standar deviasi 11,978, dan jumlah kumulatif sebesar 4891.

Hasil deskripsi data diatas menunjukan bahwa nilai rata-rata, median, maupun jumlah kumulatif antara kedua variabel yang diperoleh memiliki perbedaan yang cenderung menunjukan peningkatan.  Adanya kecenderungan peningkatan dalam setiap  skor  tersebut disimpulkan mampu mendukung timbulnya pengaruh iklim sekolah  terhadap kemandirian belajar pada siswa.

Berdasarkan hasil perhitungan data Pengaruh Iklim Sekolah Terhadap kemandirian belajar siswa, dengan menggunakan perhitungan pengolahan SPSS 16.0 diperoleh nilai koefisien regresi sebesar 0,545 dapat diartikan bahwa setiap peningkatan satu satuan iklim sekolah akan meningkatkan kemandirian belajar sebesar 0,545.

Kontribusi iklim sekolah terhadap kemandirian belajar siswa sebesar 29,70 % menunjukan bahwa iklim sekolah peranannya rendah dalam membentuk kemandirian belajar siswa. Namun walaupun hasil penelitian ini menunjukan tingkat konstribusi yang rendah namun masih relevan dengan  hasil-hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan hubungan antara iklim lingkungan sekolah dengan kemandirian belajar.(A. Fatah Munzali dalam Blogbustamamismail, 2010).  Adanya konstribusi iklim sekolah terhadap kemandirian juga sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Brookover (1979), McDill & Rigsby (1973), Mitchell (1968) Anderson (1982) yang menyatakan bahwa selain berdampak positif pada pencapaian hasil akademik siswa, iklim sekolah pun memiliki kontribusi positif terhadap pencapaian hasil non akademik, seperti pembentukan konsep diri, keyakinan diri, dan aspirasi.  Hasil pencapaian non akademik tersebut berperan dalam pembentukan kemandirian belajar siswa, diantaranya menyangkut tingkat inisiatif yang dimiliki siswa, rasa tanggung jawab, tidak bergantung pada orang lain (mandiri), dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi.

Pengaruh kecerdasan sosial Terhadap Kemandirian Belajar Siswa

Deskripsi kecerdasan sosial menunjukan bahwa kecerdasan sosial berada dalam rentang 40 sampai dengan 72.  Dalam rentang tersebut diperoleh harga rata-rata skor (mean) sebesar 58,431 dengan nilai tengah (median) sebesar 59,00, rentang (range) skor adalah 32, varians sample sebesar 42,192, standar deviasi 6,496, dan jumlah kumulatif sebesar 4207. Sementara jika kita bandingkan dengan deskripsi data kemandirian belajar siswa dengan rincian: rentang 47 sampai dengan 87.  Dalam rentang tersebut diperoleh harga rata-rata skor (mean) sebesar 67,93 dengan nilai tengah (median) sebesar 68,50, rentang (range) skor adalah 40, varians sample sebesar 143,474, standar deviasi 11,978, dan jumlah kumulatif sebesar 4891, membuktikan bahwa terdapat kenaikan dalam setiap bagiannya.  Hal ini menunjukan adanya kenaikan skor yang mampu mendukung timbulnya pengaruh tingkat kecerdasan sosial terhadap kemandirian belajar siswa

Berdasarkan hasil perhitungan data pengaruh kecerdasan sosial Terhadap kemandirian Belajar Ekonomi Siswa pada jurusan IPS SMA Negeri di wilayah selatan kabupaten Kuningan, dengan menggunakan perhitungan pengolahan SPSS 16.0 diperoleh nilai koefisien regresi sebesar 0,237 dapat diartikan bahwa setiap peningkatan satu satuan kecerdasan sosial akan meningkatkan satu satuan kemandirian belajar sebesar 0,237.

Besarnya kontribusi dari kecerdasan sosial Terhadap kemandirian belajar sebesar  5,62 %. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat pengaruh antara kecerdasan sosial terhadap kemandirian belajar sebesar 5,62 %.  Hasil penelitian ini menunjukan bahwa iklim sekolah berperan rendah dalam membentuk kemandirian belajar siswa. Meskipun demikian tetapi masih tetap memiliki pengaruh.  Hal ini sesuai dengan  pendapat Stephen Jay Could, On Intelligence, Monash University (1994), yang menjelaskan bahwa kecerdasan sosial merupakan suatu kemampuan untuk memahami dan mengelola hubungan manusia. Kecerdasan ini adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik kenyataan apa adanya ini. Kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri seperti tersebut diatas akan mengasah kecerdasan emosi.  Kecerdasan emosi ini adalah salah satu bagian dari kecerdasan sosial, kemandirian adalah salah satu bentuk kualitas emosional.  (Peter Salovey dan John Meyer seperti yang dikutif oleh Aunurrahman).

Melalui kecerdasan sosial yang dimiliki yaitu menyangkut kesadaran situasional (situational awareness), kemampuan membawa diri (presense), autensitas (authenticity), kejelasan (clarity), dan empati (Empathy) ternyata mampu mempengaruhi tingkat kemandirian siswa.  Kemandirian ini diantaranya dapat dilihat dengan adanya perubahan pada tingkat kepercayaan diri, rasa tanggung jawab, kemampuan berinisiatif dan ketidakbergantungan pada orang lain.  Tingkat kemandirian yang dimiliki cenderung mengalami perubahan yang positif ketika tingkat kecerdasan sosialnya meningkat.

Pengaruh Iklim Sekolah Terhadap Hasil Belajar Siswa

Deskripsi iklim sekolah menunjukkan bahwa pengaruh iklim sekolah berada dalam rentang 43 sampai dengan 85 Dalam rentang tersebut diperoleh harga rata-rata skor (mean) sebesar 66,17 dengan nilai tengah (median) sebesar 67,00, rentang (range) skor adalah 36, varians sample sebesar 81,944, standar deviasi 9,052, dan jumlah kumulatif sebesar 4764. Sementara itu untuk deskripsi hasil belajar menunjukkan bahwa nilai tes formatif dari 72 sampel penelitian yang digunakan memiliki rentang nilai 45 sampai dengan 88. Dalam rentang tersebut diperoleh harga rata-rata skor (mean) sebesar 71,26 dengan nilai tengah (median) sebesar 72, rentang (range) skor adalah 43, varians sample sebesar 102,929 standar deviasi 10,145, dan jumlah kumulatif sebesar 5131. Perbandingan antara kedua rentang pada variabel iklim sekolah dan hasil belajar  menunjukan adanya kenaikan skor yang mendukung terhadap munculnya pengaruh iklim sekolah terhadap hasil belajar.

Berdasarkan hasil perhitungan data Pengaruh Iklim Sekolah Terhadap Hasil Belajar Ekonomi Siswa kelas XII pada jurusan IPS SMA Negeri di wilayah selatan kabupaten Kuningan, dengan menggunakan perhitungan pengolahan SPSS 16.0 diperoleh nilai koefisien regresi sebesar 0,471 dapat diartikan bahwa setiap peningkatan satu satuan iklim sekolah akan meningkatkan hasil belajar sebesar 0,471

Besarnya konstibusi Iklim sekolah secara langsung terhadap hasil belajar adalah sebesar 22,22%, oleh karena itu untuk mengoptimalkan hasil belajar harus diupayakan dengan mewujudkan iklim sekolah yang kondusif.  Dengan cara ini diharapkan dapat mendorong siswa dalam meningkatkan hasil belajarnya.  Sementara pengaruh tidak langsung iklim sekolah terhadap hasil belajar melalui kemandirian belajar adalah sebesar 0,253.  Hal ini sesuai dengan  pendapat Moos dan Arter (1979) dan Anderson (1982)  yang menyatakan bahwa berdasarkan berbagai studi yang dilakukan, iklim sekolah telah terbukti memberikan pengaruh yang kuat terhadap pencapaian hasil-hasil akademik siswa. Hasil tinjauan ulang yang dilakukan terhadap 40 studi tentang iklim sekolah sepanjang tahun 1964 sampai dengan 1980, hampir lebih dari setengahnya menunjukkan bahwa berbagai dimensi pada iklim sekolah telah memberikan sumbangan yang berharga terhadap pencapaian hasil akademik siswa. Dimensi dimensi tersebut adalah meliputi dimensi hubungan, dimensi pertumbuhan atau perkembangan pribadi, dimensi perubahan dan perbaikan sistem, dan dimensi lingkungan fisik.  Dengan demikian berdasarkan analisis data yang diperoleh hipotesis Ha untuk pengaruh iklim sekolah terhadap hasil belajar terbukti dapat diterima, dan H0 ditolak.

Pengaruh Kecerdasan Sosial terhadap hasil Belajar

Deskripsi kecerdasan sosial berada dalam rentang 40 sampai dengan 72. Dalam rentang tersebut diperoleh harga rata-rata skor (mean) sebesar 58,431 dengan nilai tengah (median) sebesar 59,00, rentang (range) skor adalah 32, varians sample sebesar 42,192, standar deviasi 6,496, dan jumlah kumulatif sebesar 4207. Sedangkan deskripsi hasil belajar menunjukkan bahwa nilai tes formatif dari 72 sampel penelitian yang digunakan memiliki rentang nilai 45 sampai dengan 88. Dalam rentang tersebut diperoleh harga rata-rata skor (mean) sebesar 71,26 dengan nilai tengah (median) sebesar 72, rentang (range) skor adalah 43, varians sample sebesar 102,929 standar deviasi 10,145, dan jumlah kumulatif sebesar 5131.  Perbandingan antara kedua rentang pada variabel kecerdasan sosial dan hasil belajar  menunjukan adanya kenaikan skor yang mendukung terhadap munculnya pengaruh kecerdasan sosial terhadap hasil belajar.

Berdasarkan hasil perhitungan data pengaruh kecerdasan sosial Terhadap Hasil Belajar Ekonomi Siswa kelas XII pada jurusan IPS SMA Negeri di wilayah selatan kabupaten Kuningan, dengan menggunakan perhitungan pengolahan SPSS 16.0 diperoleh nilai koefisien regresi sebesar 0,183 dapat diartikan bahwa setiap peningkatan satu satuan kecerdasan sosial akan meningkatkan satu satuan hasil belajar sebesar 0,183

Besarnya konstibusi kecerdasan sosial secara langsung terhadap hasil belajar adalah sebesar 3,35%, ini berarti peningkatan hasil belajar secara langsung dipengaruhi oleh tingkat kecerdasan sosial.  Tingkat keberhasilan belajar juga secara tidak langsung dipengaruhi oleh tingkat kecerdasan sosial yaitu sebesar 0,253.  Keberpengaruhan ini didukung oleh teori belajar kognitif menurut Wallace, Engel, dan Mooney, yaitu; belajar merupakan suatu proses terpadu yang berlangsung di dalam diri seseorang dalam upaya memperoleh  pemahaman dan struktur kognitif baru, atau untuk mengubah pemahaman dan struktur kognitif lama. Struktur kognitif adalah persepsi atau tangggapan seseorang tentang keadaan dalam lingkungan sekitarnya yang mempengaruhi ide-ide, perasaan, tindakan, dan hubungan sosial orang yang bersangkutan. Jadi kecerdasan sosial sangat dibutuhkan dalam pengembangan keberhasilan dalam belajar.

Menurut  pendapat Amstrong (1994) bahwa kecerdasan sosial ini bersifat sangat unik karena dapat bekerja secara padu dan simultan ketika seseorang sedang berpikir, sehingga akan mempengaruhi hasil dari kegiatan yang dilakukan. Hal ini setara dengan kecerdasan interpersonal, salah satu jenis kecerdasan yang diidentifikasi dalam Howard Gardner‘s teori kecerdasan ganda dan erat terkait dengan teori pikiran. Keterpaduan  cara kerja kecerdasan sosial dalam menentukan hasil belajar seperti yang diungkapkan Amstrong diatas pada hasil penelitian kali ini memiliki nilai yang rendah.  Hal ini mungkin lebih disebabkan karena factor lain yang tidak diteliti.  Namun meskipun demikian tingkat keberpengaruhan ini mampu membuktikan adanya perubahan hasil belajar dengan adanya peningkatan dalam hal  kesadaran situasional (situational awareness), kemampuan membawa diri (presense), autensitas (authenticity), kejelasan (clarity), dan empati (Empathy).

Pengaruh kemandirian belajar terhadap hasil Belajar

Sementara hasil deskripsi kemandirian belajar siswa adalah sebagai berikut: peran kemandirian belajar berada dalam rentang 47 sampai dengan 87.  Dalam rentang tersebut diperoleh harga rata-rata skor (mean) sebesar 67,93 dengan nilai tengah (median) sebesar 68,50, rentang (range) skor adalah 40, varians sample sebesar 143,474, standar deviasi 11,978, dan jumlah kumulatif sebesar 4891.  Deskripsi hasil belajar menunjukkan bahwa nilai tes formatif dari 72 sampel penelitian yang digunakan memiliki rentang nilai 45 sampai dengan 88. Dalam rentang tersebut diperoleh harga rata-rata skor (mean) sebesar 71,26 dengan nilai tengah (median) sebesar 72, rentang (range) skor adalah 43, varians sample sebesar 102,929 standar deviasi 10,145, dan jumlah kumulatif sebesar 5131.  Perbandingan antara kedua rentang pada variabel kemandirian belajar siswa dan hasil belajar  menunjukan adanya kenaikan skor yang mendukung terhadap munculnya pengaruh kemandirian belajar terhadap hasil belajar.

Berdasarkan hasil perhitungan data pengaruh kecerdasan sosial Terhadap Hasil Belajar Ekonomi Siswa pada jurusan IPS SMA Negeri di wilayah selatan kabupaten Kuningan, dengan menggunakan perhitungan pengolahan SPSS 16.0 diperoleh nilai koefisien regresi sebesar 0,253dapat diartikan bahwa setiap peningkatan satu satuan kemandirian belajar akan meningkatkan satu satuan hasil belajar sebesar 0,253

Besarnya konstibusi kemandirian belajar secara langsung terhadap hasil belajar adalah sebesar 6,64%, Namun meskipun konstribusinya rendah bukan berarti dapat diabaikan.  Rendahnya pengaruh dapat disebabkan oleh perbedaan tingkat kemandirian belajar yang dimiliki siswa seperti yang dikemukakan oleh  Charlesh Schaeffer seperti yang dikutif oleh Medinnus dan Jonson yang mengatakan bahwa tingkat kemandirian yang ada pada setiap orang berbeda – beda, ada yang tinggi dan ada yang rendah. Meskipun tidak menunjukan pengaruh yang tinggi namun hal ini masih sesuai dengan  pendapat Psikolog Peter Salovey dan John Meyer seperti yang dikutif oleh Aunurrahman mengemukakan bahwa kemandirian adalah salah satu bentuk kualitas emosional yang dinilai penting bagi keberhasilan dalam belajar. Diantaranya menyangkut kemampuan berinisiatif, rasa percaya diri, tanggung jawab dan ketidakbergantungan pada orang lain.  Faktor yang mempengaruhi rendahnya besaran pengaruh yang diperoleh diprediksi akibat faktor-faktor yang tidak diteliti.

AAM AMALIYANTI. Pengaruh Iklim Sekolah, Kecerdasan Sosial, dan Kemandirian Siswa dalam Proses Pembelajaran Terhadap Hasil Belajar Ekonomi. (Survey terhadap siswa kelas XII pada Jurusan IPS SMA Negeri Di Wilayah Selatan Kabupaten Kuningan). Tesis. Sekolah Pascasarjana Universitas Kuningan. 2011

Posted in Penelitian Ilmiah | Leave a comment

Tesis Pascasarjana UNIKU – Bab 1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan sebuah investasi yang memiliki keunggulan kompetitif dibanding dengan jenis investasi lainnya.  Tinggi rendahnya dan maju mundurnya pendidikan suatu bangsa dapat dijadikan katalisator utama pembangunan sumber daya manusianya (SDM). Di Indonesia kinerja pendidikan sampai saat ini masih berpangkal pada penyempitan makna pendidikan dengan segala konsekuensinya.  Pendidikan telah dipersempit dengan makna persekolahan, yang kemudian dipersempit dengan pengajaran, dan dipersempit lagi dengan proses belajar mengajar di kelas, kemudian dipersempit lagi dengan pengajaran yang bersifat kognitif.  Akibatnya pendidikan tidak lagi menghasilkan pribadi yang utuh akan tetapi hanya satu sisi kecil dari kepribadian yaitu “Intelektualitas”. Pendidikan lebih mengutamakan sisi skolastik/akademik, dan melupakan segi-segi nilai dari kepribadian.  Tentu saja hal ini akan sangat mempengaruhi hasil dari proses belajar.

Satu hal mendasar yang harus benar-benar disadari oleh pihak terkait dengan pendidikan adalah paradigma sebagai landasan kerangka berpikir yang menjadi rujukan dalam aktualisasi tindakan penyelenggaraaan pendidikan.  Pemikiran tentang pembelajaran dalam proses pendidikan yang hanya memanfaatkan sisi kognitif saja perlu segera diperbaiki, sehingga pembelajaran tidak lagi bersifat skolastik tapi lebih bersifat holistik.  Dengan demikian sasaran pembangunan menuju manusia Indonesia yang seutuhnya yang memiliki harkat dan martabat segera tercapai. Oleh karena itu untuk mewujudkan pembangunan manusia Indonesia, setiap warga negara berkewajiban untuk mengupayakan  berbagai perubahan yang diperlukan.  Langkah perubahan ini bukanlah sesuatu yang mudah, berbagai proses perlu dilalui, terutama melalui proses belajar.  Belajar merupakan agen perubahan yang nyata, sehingga jika seseorang ingin berubah maka diperlukan proses pembelajaran yang baik agar mendapatkan hasil belajar yang baik pula. Upaya untuk meningkatkan keberhasilan belajar diantaranya dapat dilakukan melalui upaya perbaikan proses pembelajaran.

Upaya meningkatkan keberhasilan pembelajaran selalu merupakan tantangan yang menarik, terutama bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia pendidikan. Banyak upaya telah dilakukan,banyak pula keberhasilan yang telah dicapai, meskipun disadari keberhasilan yang dicapai belum memuaskan seluruh harapan, sehingga memerlukan perenungan, pemikiran dan kerja keras untuk memecahkan masalah yang menjadi kendala dalam pencapaiannya.  Reformasi dalam cara-cara belajar perlu dilakukan untuk memperbaiki hasil belajar, berbagai kelemahan pada dunia pendidikan memerlukan upaya-upaya strategis dalam pemecahan masalahnya.  Hal ini tentu saja memerlukan peran serta berbagai pihak terkait, baik dari elemen pemerintahan sebagai penentu kebijakan maupun masyarakat yang mampu berperan sebagai stakeholder dalam dunia pendidikan.

Kemerosotan mutu pendidikan formal di Indonesia seperti yang ditunjukan pada data berbagai survey tingkat internasional tidak terlalu mengejutkan kita jika kita mengikuti berbagai perkembangan pendidikan di Indonesia.  Berita mengenai anak putus sekolah di berbagai media massa kini semakin memprihatinkan, selain itu factor perhatian orang tua yang kurang terhadap pendidikan anak semakin memperparah kondisi pendidikan di Negara kita. Banyak diantara masyarakat yang berfikir bahwa sekolah hanyalah lembaga formal untuk memperoleh izajah sebagai legalitas dari sebuah produk pendidikan, dan untuk memperolehnya tidak jarang dengan harusnya membayar dengan biaya yang mahal.  Paradigma ini mengantarkan pada lunturnya atau hilangnya arti dan peran dari proses pembelajaran yang terjadi pada diri anak. Proses pembelajaran yang harusnya bersifat holistic (menyeluruh) disertai dengan dukungan dari berbagai pihak menjadi terabaikan.

Untuk mengetahui tingkat keberhasilan pembelajaran salah satunya dengan mengadakan evaluasi terhadap pencapaian tujuan pembelajaran.  Evaluasi merupakan salah satu komponen pengukur derajat keberhasilan pencapaian tujuan dan keefektifan proses pembelajaran yang dilaksanakan.  Kondisi-kondisi ketika proses pembelajaran berlangsung, prosedur pembelajaran, dan hambatan – hambatan yang dapat mengganggu pencapaian tujuan perlu diperhatikan ketika evaluasi berlangsung.  Angka bukanlah hal utama dalam hasil belajar, tetapi umpan balik atas hasil penilaianlah yang sebenarnya dibutuhkan.  Umpan balik ini merupakan hal yang penting dalam rangka revisi, mengingat bahwa proses belajar itu sifatnya kontinyu, sehingga berbagai penyempurnaan hasil belajar dapat dicapai dengan baik sesuai dengan tujuan dari proses pembelajaran itu sendiri. Unit-unit penyelenggara kegiatan pendidikan sudah sepatutnya menjadi waspada terhadap berbagai kemungkinan yang dapat menyebabkan berbagai ketimpangan-ketimpangan dalam dunia pendidikan.  Lalu mungkin muncul pertanyaan, siapakah yang bertanggung jawab dalam setiap unit penyelenggaraan tersebut?.  Jawabannya tentu saja setiap komponen atau setiap elemen yang  terkait langsung ataupun tidak langsung dalam proses penyelenggaraan pendidikan tersebut.  Alasannya adalah karena hanya elemen-elemen yang terkait inilah  (baik yang secara langsung maupun tidak langsung) yang mengetahui berbagai segi dari proses penyelenggaraan pendidikan pada unit penyelenggara pendidikan tersebut.

Ditinjau dari segi kelembagaan, penyelenggaraan pendidikan di Indonesia terbagi menjadi dua jalur, yaitu jalur pendidikan sekolah dan luar sekolah.  Konsep pendidikan madani sudah dicanangkan sejak tahun 1999, dengan harapan terbentuk insan-insan yang madani, tentu saja bersifat menyeluruh dalam konteks kehidupan.  Untuk jalur pendidikan sekolah dan luar sekolah sama-sama mempunyai peranan dalam membentuk insan-insan madani ini.  Hal ini sesuai dengan fungsi pendidikan menurut Undang-Undang RI No. 2 tahun 1989 Bab II pasal 3, bahwa: ”Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat bangsa Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional”.

Melalui proses pendidikan, suatu bangsa berusaha untuk mencapai kemajuan-kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan.  Perkembangan ekonomi, sosial, politik, ilmu pengetahuan, tekhnologi dan bidang-bidang lainnya adalah hal-hal yang sudah sepatutnya dijadikan tolak ukur kemajuan suatu bangsa.  Untuk mencapai kemajuan tersebut tentu saja dibutuhkan kemampuan manusia untuk menggunakan akalnya dalam memahami lingkungannya yang merupakan potensi dasar yang memungkinkan seseorang belajar. Dengan belajar manusia mampu melakukan perubahan dalam dirinya, karena ketika belajar berlangsung sudah dapat dipastikan seseorang akan melewati aspek-aspek pembelajaran dalam dirinya.  Dengan demikian ketika proses belajar berakhir diharapkan adanya perubahan sebagai hasil dari  belajar yang dilaluinya.

Setiap orang telah dibekali oleh sang Khalik kemampuan untuk berubah, dan perubahan yang berlangsung selama proses belajar merupakan makna pokok dari belajar. Dengan belajar manusia diharapkan dapat memperbaiki dirinya, berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya sehingga perannya sebagai khalifah di muka bumi dapat dilaksanakan secara maksimal sesuai dengan potensi yang berkembang pada dirinya.  Situasi dan kondisi lingkungan tempat belajar besar pengaruhnya terhadap kelangsungan proses belajar itu sendiri.  Pengkondisian terhadap segala sesuatu hal yang memberikan efek pada belajar perlu diperhatikan dengan seksama.  Beberapa hal mungkin dapat berpengaruh negatif, faktor ini perlu upaya untuk mengenyampingkannya.  Beberapa faktor lain dapat saja pengaruh positifnya begitu besar dan ini perlu dukungan untuk dapat lebih berpengaruh posistif, dan beberapa hal lainnya dapat saja pengaruhnya rendah.   Kemampuan kita untuk mencermati situasi dan kondisi ketika proses belajar berlangsung sangat diperlukan agar perubahan yang kita harapkan dapat tercapai maksimal.

Perubahan dari akhir  proses belajar yang terjadi pada diri seseorang mungkin saja bukan akibat dari pembelajaran yang terjadi pada saat itu, tetapi dapat merupakan akumulasi dari pembelajaran sebelumnya.  Kebutuhan akan penyempurnaan dari pembelajaran sebelumnya dapat saja terjadi setelah mendapatkan pembelajaran yang terjadi sekarang ini.  Ini merupakan hal yang wajar terjadi mengingat  adanya keterbatasan kemampuan otak manusia dalam mengolah data dari proses belajar yang dilaluinya.  Fenomena tersebut diatas membuat begitu pentingnya akan pemahaman tentang makna belajar, tujuannya adalah agar tidak terjadi kesalahan dalam penarikan kesimpulan pada hasil belajar ketika proses pembelajaran berakhir.

Menurut Jean Piaget seorang ahli Psikologi dari Swiss, perkembangan kognitif  individu meliputi empat tahap yaitu: kematangan, pengalaman fisik/ lingkungan transmisi social, equilibrium/ self regulation.  Merujuk pada ungkapan Peaget diatas dapat disimpulkan bahwa kemampuan seseorang dalam memecahkan suatu masalah dapat diindikasikan sebagai cerminan kemampuan berfikir orang tersebut.  Faktor lingkungan cukup berpengaruh terhadap pengambilan keputusan, daya lingkungan akan mempengaruhi setiap ranah berpikir seseorang.  Lingkungan memberikan pembelajaran yang melibatkan proses mental dan fisik sehingga hasil belajar yang dimiliki seseorang dapat mencerminkan kondisi lingkungan tempat orang tersebut berada.

Secara umum tingkat keberhasilan belajar di Indonesia sekarang ini berada dalam tataran yang belum memuaskan. Saat ini tumbuh paradigma berpikir bahwa hasil belajar itu di interprestasikan dengan nilai, bukan bagaimana proses yang ditempuh untuk mendapatkan nilai.  Proses belajar yang begitu penting tidak lagi merupakan titik perhatian, sehingga kompetensi siswa tidak begitu baik.  Hal ini terbukti dengan banyaknya siswa yang kurang mampu memecahkan masalah, tumbuhnya kebiasaan menyontek sebagai dampak dari rasa percaya diri yang kurang juga aspek kognitif yang kurang.

Faktor iklim sekolah,, kecerdasan sosial dan kemandirian siswa dalam proses pembelajaran tampaknya merupakan unsur yang berperan dalam menentukan hasil belajar.  Berdasarkan hal tersebut di atas Penulis mengajukan judul penelitian yaitu ”Pengaruh Iklim Sekolah, , Kecerdasan Sosial, dan Kemandirian Siswa Dalam Proses Pembelajaran Terhadap Hasil Belajar Ekonomi.  Survei terhadap siswa kelas XII pada jurusan IPS SMA Negeri di wilayah selatan di Kabupaten Kuningan.

1.2.   Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dirumuskan masalah dalam penelitian ini adalah :

  1. Apakah iklim sekolah berpengaruh terhadap kemandirian belajar siswa?
  2. Apakah kecerdasan sosial berpengaruh terhadap Kemandirian belajar siswa?
  3. Apakah Iklim sekolah berpengaruh terhadap hasil belajar siswa?
    1. Apakah kecerdasan sosial berpengaruh terhadap hasil belajar siswa?
    2. Apakah Kemandirian belajar berpengaruh terhadap hasil belajar siswa?

1.3.      Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mendapat gambaran empiris tentang pengaruh iklim sekolah dan kecerdasan sosial secara bersama-sama terhadap kemandirian siswa dalam proses pembelajaran ekonomi pada kelas XII jurusan IPS SMA Negeri di Kabupaten Kuningan
  2. Untuk mendapat gambaran empiris tentang pengaruh iklim sekolah terhadap kemandirian siswa dalam proses pembelajaran ekonomi pada kelas XII jurusan IPS SMA Negeri di Kabupaten Kuningan
  3. Untuk mendapat gambaran empiris tentang pengaruh kecerdasan sosial terhadap kemandirian siswa dalam proses pembelajaran ekonomi pada kelas XII jurusan IPS SMA Negeri di wilayah selatan Kabupaten Kuningan
  4. Untuk mendapat gambaran empiris tentang pengaruh kemandirian siswa dalam proses pembelajaran terhadap hasil belajar Ekonomi pada kelas XII jurusan IPS SMA Negeri di Kabupaten Kuningan
  5. Untuk mendapat gambaran empiris tentang pengaruh iklim sekolah dan kecerdasan sosial secara bersama-sama terhadap hasil belajar Ekonomi siswa kelas XII pada jurusan IPS SMA Negeri di Kabupaten Kuningan
  6. Untuk mendapat gambaran empiris tentang pengaruh iklim sekolah terhadap hasil belajar Ekonomi siswa kelas XII pada jurusan IPS SMA Negeri di Kabupaten Kuningan
  7. Untuk mendapat gambaran empiris tentang pengaruh kecerdasan sosial terhadap hasil belajar Ekonomi siswa kelas XII pada jurusan IPS SMA Negeri di Kabupaten Kuningan.

1.4.  Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi berbagai perbaikan proses pembelajaran sehingga mampu mendongkrak tingkat keberhasilan belajar Ekonomi siswa kelas XII pada jurusan IPS SMA Negeri di kabupaten kuningan Khususnya dan sekolah-sekolah di Indonesia pada umumnya.  Kajian secara empiris tentang pengaruh iklim sekolah, kecerdasan sosial, dan kemandirian siswa beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya diharapkan menjadi bahan dalam proses perbaikan tersebut.

  1. Kegunaan teoritis

Bukti-bukti empiris yang diperoleh diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dan diharapkan bisa memacu peningkatan hasil belajar ekonomi di kelas XII pada jurusan IPS di Sekolah Menengah Atas.

  1. Kegunaan Praktis

Hasil penelitian ini, diharapkan dapat memberikan manfaat bagi banyak pihak, misalnya guru, sekolah dan pemerintah.

2.1. Dapat mengkaji kondisi iklim sekolah, kecerdasan sosial, dan kemandirian siswa sehingga terjadi peningkatan hasil belajar.

2.2.  Mencari solusi alternatif dalam upaya perbaikan hasil belajar

2.3.  Memberikan bahan pertimbangan dan pemikiran bagi pihak-pihak  yang terkait dengan penyelenggaraan  pendidikan

2.4.  Memberikan rangsangan dalam melakukan penelitian tindak lanjut tentang faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan hasil belajar siswa dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia.

AAM AMALIYANTI. Pengaruh Iklim Sekolah, Kecerdasan Sosial, dan Kemandirian Siswa dalam Proses Pembelajaran Terhadap Hasil Belajar Ekonomi. (Survey terhadap siswa kelas XII pada Jurusan IPS SMA Negeri Di Wilayah Selatan Kabupaten Kuningan). Tesis. Sekolah Pascasarjana Universitas Kuningan. 2011

Posted in Penelitian Ilmiah | Leave a comment

Tesis Pascasarjana Uniku – Abstrak

Permasalahan dalam penelitian ini adalah belum memuaskannya hasil belajar siswa pada hampir  setiap sekolah yang ditunjukan dengan rendahnya pencapaian nilai yang diperoleh. Misalnya persentase jumlah peserta didik yang memperoleh rata-rata hasil test di bawah Kriteria Ketuntasan Belajar (KKM) lebih banyak dibandingkan dengan jumlah peserta didik yang memperoleh rata-rata hasil test di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Keadaan demikian, diduga diantaranya dipengaruhi oleh kurang kondusifnya iklim sekolah, rendahnya kecerdasan sosial dan kurangnya tingkat kemandirian siswa dalam proses pembelajaran.

Continue reading

Posted in Penelitian Ilmiah | Leave a comment

Perubahan Kurikulum

DENGAN MENGUBAH KURIKULUM BERARTI SUDAH MENGUBAH SEKOLAH DAN TUJUAN PASTI TERCAPAI

SETUJUKAH????

Aam Amaliyanti; dipresentasikan dalam perkuliahan Manajemen Pendidikan

Abstraksi: Judul dari pembahasan ini adalah sebuah pertanyaan yang menggugah pikiran penulis, dan kemudian mendorong untuk menelusuri hal-hal yang dapat menjawab pertanyaan tersebut.  Melalui penelusuran ini penulis ingin mencoba menjelaskan terlebih dahulu mengenai pengertian kurikulum dengan mengacu pada pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh pakar-pakar dalam dunia pendidikan. Permasalahan yang dimiliki oleh dunia pendidikan kita sudah cukup berat dan rumit, sehingga membutuhkan energi ekstra dalam pemecahannya.  Pemerintah sebenarnya sudah seringkali melakukan berbagai upaya dalam mendongkrak ketertinggalan kemajuan pendidikan, tetapi tetap saja belum mencapai hasil seperti yang diharapkan.  Berbagai perubahan yang mengacu pada meningkatan mutu pendidikan telah dilakukan, tetapi tetap saja efek positifnya tidak segera kita rasakan.  Padatnya bahan ajar yang dibebankan pada siswa siswi kita memberikan konstribusi terhadap rendahnya hasil proses pendidikan yang di capai.

Continue reading

Posted in Pendidikan-cirukem | Tagged , | Leave a comment

Sistem Peredaran Darah

SISTEM PEREDARAN DARAH

Sistem peredaran pada manusia dibedakan menjadi sistem peredaran tertutup dan Sistem peredaran terbuka.

Sistem Peredaran Darah pada Manusia

Komponen sistem peredaran darah :

  1. Darah
  2. Pembuluh darah
  3. Jantung

Continue reading

Posted in Materi Pembelajaran | Leave a comment

Sistem Pencernaan Makanan

SISTEM PENCERNAAN

Standar Kompetensi :Menjelaskan struktur dan fungsi organ manusia dan hewan tertentu ,                                           kelainan/penyakit yang mungkin terjadi serta implikasinya pada                                           Salingtemas

Kompetensi dasar:    Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta                                         kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem pencernaan                                         makanan pada manusia dan hewan (misalnya ruminansia)

Continue reading

Posted in Materi Pembelajaran | Comments Off

TRANSPORT PADA MEMBRAN SEL

TRANSPORT PADA

MEMBRAN SEL

Sistem transpor membran

Salah satu fungsi dari membran sel adalah sebagai lalu lintas molekul dan ion secara dua arah. Molekul yang dapat melewati membran sel antara lain ialah molekul hidrofobik (CO2, O2), dan molekul polar yang sangat kecil (air, etanol). Sementara itu, molekul lainnya seperti molekul polar dengan ukuran besar (glukosa), ion, dan substansi hidrofilik membutuhkan mekanisme khusus agar dapat masuk ke dalam sel.

Continue reading

Posted in Materi Pembelajaran | Comments Off

Jaringan Pada Hewan Dan Tumbuhan

JARINGAN PADA HEWAN DAN TUMBUHAN

Jaringan dalam biologi adalah sekumpulan sel yang memiliki bentuk dan fungsi yang sama. Jaringan-jaringan yang berbeda dapat bekerja sama untuk suatu fungsi fisiologi yang sama membentuk organ. Jaringan dipelajari dalam cabang biologi yang dinamakan histologi, sedangkan cabang biologi yang mempelajari berubahnya bentuk dan fungsi jaringan dalam hubungannya dengan penyakit adalah histopatologi. Jaringan dimiliki oleh organisme yang telah memiliki pembagian tugas untuk setiap kelompok sel-selnya. Organisme bertalus, seperti alga (“ganggang”) dan fungi (“jamur”), tidak memiliki perbedaan jaringan, meskipun mereka dapat membentuk struktur-struktur khas mirip organ, seperti tubuh buah dan sporofor. Tumbuhan lumut dapat dikatakan telah memiliki jaringan yang jelas, meskipun ia belum memiliki jaringan pembuluh yang jelas.

Continue reading

Posted in Materi Pembelajaran | Comments Off

Sistem Gerak

SISTEM GERAK PADA MANUSIA

STANDAR KOMPETENSI :

SISWA MAMPU MENGANALISIS SISTEM ORGAN PADA ORGANISME TERTENTU, SERTA KELAINAN ATAU PENYAKIT YANG MUNGKIN TERJADI SERTA IMPLIKASINYA PADA SAINS, LINGKUNGAN, TEKNOLOGI, DAN MASYARAKAT ( SALINGTEMAS

KOMPETENSI DASAR :

MENGAITKAN STRUKTUR, FUNGSI, PROSES, DAN KELAINAN ATAU PENYAKIT YANG DAPAT TERJADI PADA SISTEM GERAK PADA MANUSIA

INDIKATOR

  • Mengidentifikasi struktur, fungsi, dan proses sistem gerak (tulang dan otot) pada manusia
  • Mengaitkan struktur (tulang dan otot), fungsi, dan proses sistem gerak (tulang dan otot) pada manusia
  • Menjelaskan struktur, fungsi, dan proses sistem gerak (tulang dan otot) pada manusia
  • Mengidentifikasi kelainan yang terjadi pada sistem gerak
  • Memberi contoh teknologi yang berhubungan dengan kelainan yang terjadi pada sistem gerak

Gerak pada manusia merupakan hasil kerjasama antara tulang dan otot

Uraian Materi:

A. RANGKA MANUSIA

1     Susunan tulang-tulang ( ± 200 buah) dengan sistem tertentu

2     Merupakan endoskeleton

3     Antar tulang dihubungkan oleh sendi

4     Sendi dilengkapi dengan ligament

5     Interaksi dari seluruh komponen pendukung gerak (tulang, otot dan sendi) akan menghasilkan gerak tertentu

Fungsi rangka

1        Menunjang tegaknya tubuh

2         Alat gerak pasif

3         Tempat melekatnya otot rangka

4         Memberi bentuk tubuh

5         Melindungi alat-alat tubuh yang lemah

6         Tempat pembentukan sel-sel darah

7         Tempat penimbunan mineral

Pembentukan Tulang

  • Rangka terbentuk lengkap pada awal bulan ketiga kehamilan, berasal dari jaringan mesenkim
  • Semua rangka tersebut masih dalam bentuk kartilago
  • Kartilago berisi osteoblast
  • Osteoblast membentuk osteosit (sel tulang) secara konsentris
  • Diantara sel-sel tulang terdapat matriks yang tersusun atas senyawa protein
  • Kedalam matriks terisi unsur Ca dan P à tulang menjadi keras

KARTILAGO (tulang rawan)

  • Kartilago hialin :

1     serabut kolagen, kuat dan elastik

2     menutupi ujung tulang pipa, tulang rawan iga, pada

3     hidung, larynx, trakea dan pada bronkhus

  • Kartilago fibrosa :

- pada antar ruas tulang belakang, simfisis pubis

  • Kartilago elastis :

1     pada daun telinga, epiglotis, dan tabung Eustakhius.

2     bila ditekan atau dibengkokkan terasa lentur dan cepat kembali ke bentuk semula.

Bentuk tulang

  1. Tulang pipa, contohnya : tulang paha, tulang lengan, tulang betis
  2. Tulang pipih, contohnya : tulang belikat, tulang usus, tulang duduk
  3. Tulang pendek, contohnya : ruas-ruas tulang belakang, pergelangan tangan, pergelangan kaki

Tulang tengkorak

Bagian kepala :

1 os frontale

2 os parietale

1 os occipetale

2 os sphenoidale

2 os ethmoidale

2 os temporal

Bagian wajah :

2 os maxilla, 2 os mandibula , 2 os zigomaticum , 2 os pallatum , 2 os nasale

2 os lacrimale, 2 os hyoideum

Kolumna vertebralis (tl belakang)

7  vertebrae servicales , 12  vertebrae dorsalis, 5  vertebrae lumbales, 5 vertebrae sacrum,  4 vertebrae cocigeus .

Tulang panggul

2 os ilium, sacrum, asetabulum, 2 os pubis, 2 os ichium, Tulang dada, rusuk, dan gelang bahu

Tulang dada (sternum)

1.  Tulang rusuk :

7 psg tl rusuk sejati (costa vera), 3 psg tl rusuk palsu (costa sparia), 2 psg tl rusuk melayang (costa fluctuantes)

2. Gelang bahu

2 tl selangka (clavicula), 2 tl belikat (scapula)

Skeleton apendikular

1. Tangan :

2 humerus (lengan atas), 2 ulna (hasta), 2 radius (pengumpil), 2 x 8 carpus (pergelangan tangan),

2 x 5 metacarpus (tapak tangan), 2 x 14 phalanges (jari-jari tangan)

2. Kaki :

2 femur (paha), 2 patella (tempurung), 2 tibia (tl kering), 2 fibula (tl betis), 2 x 7 tarsus (pergelangan kaki). 2 x 5 metatarsus (telapak kaki), 2 x 14 phalanges (jari-jari kaki

SUSUNAN RANGKA TUBUH MANUSIA

B. PERSENDIAN

STRUKTUR SENDI

Sendi terdiri atas : tulang sendi, tulang rawan sendi, membran sinovial, rongga sendi dan kapsul

Membran sinovial menghasilkan minyak sinovial yang berfungsi untuk memudahkan gerakan

Artikulasi (persendian)

Sinartrosis :

a.  Sinkondrosis; tulang iga dan tulang dada

b.  Sinfibrosis; antartulang tengkorak

c.  Gamfosis (kantung); gigi dg kantungnya

d.  Sindesmosis; (dihubungkan oleh membran) seperti hubangan antara tulang betis dan tulang

kering bagian bawah

Diartrosis

  1. Sendi peluru. (berporos tiga) Misal, tulang lengan atas dengan tulang belikat, dan tulang paha dengan gelang panggul
  2. Sendi putar. (berporos satu) Misal, tulang kepala dengan tulang atlas
  3. Sendi pelana. (berporos dua) Misal, ruas jari tangan dengan telapak tangan
  4. Sendi engsel. (berporos satu) Misal, pada sikut, lutut dan ruas jari
  5. Sendi ovoid/elipsoid (berporos dua) Misal, antara pergelangan tangan dan tulang pengumpil.
  6. Sendi luncur, Misal, hubungan antarruas tulang belakang.

Tiga karakteristik kemampuan otot :

  1. Kontraksibilitas (perubahan menjadi lebih pendek dari ukuran semula)
  2. Ekstensibilitas (kemampuan otot mengalami pemanjangan dari ukuran semula)
  3. Elastisitas (kembali ke ukuran semula setelah mengalami konstraksi atau ekstensi.

Sel otot polos :

  • Bentuk seperti kumpuran dg kedua ujungnya runcing
  • Inti satu, di tengah
  • Bekerja di luar kehendak
  • Letak, misal pada pembuluh darah

Sel otot lurik

  • Bentuk silindris,
  • Inti banyak di sisi
  • Bekerja sesuai kehendak, tidak tahan kelelahan
  • Terdapat melekat pada rangka

Sel otot jantung

  • Bentuk silindris seperti otot lurik, tetapi satu sama lain bersatu
  • Bekerja di luar kehendak, tapi tahun kelelahan
  • Hanya terdapat pada jantung

TERIMA KASIH

Posted in Materi Pembelajaran | Leave a comment